Jumat, 19 November 2010

Makalah Pengantar Filsafat Ilmu

ILMU DAN FILSAFAT







PAPER
Diajukan sebagai Tugas Mata Kuliah Filsafat Ilmu
Program Pasca Sarjana Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI-A Beasiswa GPAI)
Dosen Pembimbing : Prof. Dr. H. Dadang Kahmad, M.Si






Disusun oleh :
Ihat Solihat
NIM : 2.210.9.087






PROGRAM PASCA SARJANA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ( UIN )
SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG
2010
ILMU DAN FILSAFAT

A. PENDAHULUAN
Manusia dilahirkan ke alam dunia ini dalam keadaan tidak tahu apa-apa, kemudian Allah menganugerahkan kepadanya tiga potensi, yaitu pendengaran (al-sam’a), penglihatan (al-abshar), dan akal/qalb (al-af’idah) . Ketiga potensi yang dimiliki manusia tersebut harus senantiasa diasah untuk mencapai kesempurnaan insani (insani kamil).
Manusia yang mempunyai keinginan untuk menjadi manusia paripurna akan berusaha optimal untuk memuaskan rasa tidak tahunya dan Allah SWT telah menyiapkan bekal berupa tiga potensi tadi, yaitu penglihatan, pendengaran dan hati. Ketiga potensi tersebut harus digunakan utuk mencari, menggali informasi dan mengoptimalkan segenap potensi sehingga akan terpuaskan rasa ingin tahunya.
Sebagai suatu illustrasi tengok saja bagaimana Qabil yang kebingungan, tatkala saudaranya Habil sudah dalam keadaan mati terbunuh olehnya, kemudian Allah memperlihatkan dua burung yang sedang berkelahi dan salah satu diantaranya mati, kemudian burung yang masih hidup menguburkannya dengan cara mencakar-cakar tanah agar bangkai burung tersebut dapat dimasukan ke dalamnya. Seolah terinspirasi, Qabil melakukan hal yang sama, dia keruk-keruk tanah membentuk satu lubang sehingga jasad Habil dapat dimasukan ke dalamnya .
Dari peristiwa tersebut – terlepas dari benar atau salah perbuatan Qabil – terkandung sebuah pelajaran (hikmah) bahwa Qabil yang asalnya tidak mempunyai pengetahuan tentang penguburan jenazah dapat menyaksikan fragmen yang Allah suguhkan melalui kedua burung yang sedang berkelahi. Sehingga penulis menarik kesimpulan bahwa potensi penglihatan, pendengaran, dan hati yang dimiliki oleh manusia merupakan modal untuk mencapai sebuah pemahaman akan makna kehidupan dan kebenaran, baik melalui ilmu pengetahuan (sains) dan filsafat (wisdom) maupun agama (religion).

B. ILMU
1. Ontologi (Hakikat) Ilmu
Menurut Beni Ahmad Saebani , Ilmu berasal dari Bahasa Arab yaitu “ilm” yang berarti pengetahuan. Dalam filsafat, ilmu dan pengetahuan berbeda, ilmu merupakan akumulasi dari berbagai pengetahuan. Masih menurut Beni Ahmad Saebani yang mengutip pendapat Muhammad, Kata “ilm” terdiri dari tiga huruf yaitu ain, lam dan mim. Ketiga huruf tersebut memiliki makna tersendiri, yakni :
a. Huruf ain bentuknya di depan ibarat mulut yang posisinya terbuka, menandakan bahwa seseorang yang mencari ilmu pengetahuan tidak akan pernah merasa kenyang.
b. Huruf lam sesudah ain, tongkatnya panjang tidak terbatas. Ini memandakan seseorang yang mencari ilmu tidak mengenal batas usia, semua berhak melakukannya.
c. Huruf mim yang terletak diakhir setelah lam, menunduk pada kefakiran ilmunya. Ini menandakan seseorang yang mencari ilmu, meskipun ilmu telah diraihnya akan tetapi sikapnya selalu rendah hati (tawadhu).
Sedangkan menurut Endang Saifuddin Anshari , ilmu pengetahuan adalah usaha pemahaman manusia yang disusun dalam suatu sistema mengenai kenyataan, struktur , pembagian, bagian-bagian dan hukum-hukum tentang hal ihwal yang diselidiki (alam, manusia dan agama) sejauh yang dapat dijangkau oleh daya pemikiran yang dibantu penginderaan manusia itu, yang kebenarannya diuji secara empiris, riset, dan eksperimental.
Dalam buku Pendidikan dalam Perspektif Islam, Ahmad Tafsir menterjemahkan ilmu dengan sains, yaitu sejenis pengetahuan manusia yang diperoleh dari riset terhadap objek-objek yang empiris, benar tidaknya suatu teori ditentukan oleh logis tidaknya dan ada atau tidaknya bukti empiris . sedangkan dalam buku Filsafat Ilmu, belaiau menegaskan bahwa pengetahuan sains adalah pengetahuan rasional empiris .
Dari tiga pendapat tadi dapat disimpulkan bahwa ilmu atau pengetahuan sain adalah akumulasi dari berbagai pengetahuan yang dimiliki manusia yang bersifat logis dan empiris. Dengan ilmu seorang manusia akan memperoleh kebenaran yang dicarinya, dan dengan ilmu juga seorang manusia akan terbebas dari ketidaktahuannya.

2. Cabang-cabang Ilmu
Menurut Endang Saifuddin Anshari secara garis besar ilmu pengetahuan terbagi menjadi tiga yaitu :
a. Ilmu-ilmu Pengetahuan Alam (Natural Sciences) :
1) Biologi
2) Antropologi Fisik
3) Ilmu Kedokteran
4) Ilmu Farmasi
5) Ilmu Pertanian
6) IlmuPasti
7) Ilmu Alam
8) Ilmu Teknik
9) Geologi
b. Ilmu-ilmu Kemasyarakatan (Social Sciences)
1) Ilmu Hukum
2) Ilmu Ekonomi
3) Ilmu Jiwa Sosial
4) Ilmu Bumi Sosial
5) Sosiologi
6) Antropologi budaya dan sosial
7) Ilmu Sejarah
8) Ilmu Politik
9) Ilmu Pendidikan
10) Publistik dan Jurnalistik
c. Humaniora (Studi humanitas, humanities studies)
1) Ilmu agama
2) Ilmu filsafat
3) Ilmu bahasa
4) Ilmu seni
5) Ilmu jiwa

3. Epistemologi Ilmu
Berbicara tentang epistemologi ilmu (sain) dibicarakan pula objeknya, cara memperolehnya dan cara mengukur benar tidaknya .
a. Objek pengetahuan sain
Objek pengetahuan sain atau hal-hal yang dapat diteliti oleh pengetahuan sain adalah objek-objek yang empiris di antaranya : alam, tetumbuhan, hewan, manusia serta kejadian-kejadian yang mengitarinya. Dari penelitian yang dilakukan muncullah teori-teori tentang sain. Kemudian teori-teori tersebut dikelompokan dan muncullah struktur sain.
b. Cara memperoleh Pengetahuan sain
Perkembangan sain didorong oleh paham-paham filsafat yang terus berkembang yaitu :
 Humanisme : Paham yang menganggap bahwa manusia mampu mengatur dirinya dan alam. Menurut mereka aturan harus dibuat bersumber pada sesuatu yang bersumber pada manusia , yaitu akal. Dari paham tersebutlah muncul paham Rasionalisme
 Rasonalisme adalah paham yang mengatakan bahwa akallah alat pencari dan pengukur pengetahuan, apabila logis menurut akal, maka benar, dan apabila tidak logis menurut akal, maka dianggap salah. Tetapi acap kali pendapat orang berlainan terhadap satu kenyataan, maka lahirlah paham Empirisme.
 Empirisme adalah paham filsafat yang mengajarkan bahwa yang benar ialah yang logis dan ada bukti empiris.Tetapi ternyata empirisme masih memiliki kekurangan, yaitu yang ditemukan dari empirisme masih bersifat umum, belum operasional dan belum dapat terukur Maka muncullah aliran Positivisme.
 Positivisme adalah paham filsafat yang mengajarkan bahwa kebenaran ialah yang logis, ada bukti empirisnya dan dapat diukur. Positivisme sudah disepakati, tetapi masih belum ada alat untuk membedahnya, maka muncullah Metode Ilmiah.
 Metode Ilmiah adalah cara atau jalan yang dilalui oleh proses ilmu sehingga mencapai kebenaran, caranya sendiri bermacam-macam tergantung kepada sifat ilmu itu sendiri, apakah ilmu alam atau ilmu sosial .
Metode ilmiah terdiri dari beberapa bagian yaitu6 :
1) Pengumpulan (koleksi) data dan fakta
2) Pengamatan (observasi) data dan fakta
3) Pemilihan (seleksi) data dan fakta
4) Penggolongan (klasifikasi) data dan fakta
5) Penafsiran (interpretasi) datadan fakta
6) Penarikan kesimpulan umum (generalisasi)
7) Perumusan hipotesa
8) Pengujian (verifikasi) terhadap hipotesa melalui riset, empiric dan eksperimen
9) Penilaian (evaluasi) menerima, menolak, menambah atau merubah hipotesa
10) Perumusan teori ilmu pengetahuan
11) Perumusan dalil atau hokum ilmu pengetahuan.

c. Ukuran kebenaran Pengetahuan sains
Mengukur kebenaran pengetahuan sains adalah dengan melakukan pengajuan hipotesis melalui sebuah penelitian, apabila hipotesisnya benar, maka akan logis, ada atau tidak adanya bukti empirisnya itu soal lain (garis bawah dari penulis) .

4. Aksiologi Ilmu
Aksiologi Ilmu pengetahuan atau fungsi menurut pendapat RBS Fudyartanta yang dikutip oleh Endang Saifuddin Anshari terdiri dari empat macam yaitu :
a. Fungsi Deskriptif : menggambarkan, melukiskan dan memaparkan suatu objek atau masalah sehingga mudah dimengerti oleh peneliti
b. Fungsi Pengembangan : Melanjutkan hasil penemuan dan menemukan hasil penemuan yang baru.
c. Fungsi Prediksi : Meramalkan kejadian-kejadian yang mungkin terjadi dan menyiapkan tindakan untuk mengatasinya.
d. Fungsi Kontrol : Berusaha mengendalikan peristiwa-peristiwa yang tidak dikehendaki.
C. FILSAFAT

1. Ontologi (Hakikat) Filsafat
Menurut Sutardjo A Wiramihardja yang dikutip oleh Beni Ahmad Saebani , secara etimologis filsafat berasal dari beberapa bahasa, yaitu bahasa Inggris dan bahasa Yunani. Dari Bahasa Inggris filsafat berasal dari kata philosophy, sedangkan Bahasa Yunani berasal dari kata philen atau philos dan sofien atau sophi. Socrates mengatakan bahwa filosof adalah orang yang mencintai atau mencari kebijaksanaan. Filosof bukan orang yang bijaksana atau berpengetahuan benar, melainkan orang yang sedang belajar dan mencari kebenaran atau kebijaksanaan.
Sedangkan menurut Harun Nasution yang dikutip oleh Zuhairini filsafat berasal dari kata Yunani yang tersusun dari dua kata yaitu philein yang berarti cinta dan sophos yang berarti hikmat (wisdom). Orang Arab memindahkan kata Yunani Philoshopia ke dalam bahasa mereka yaitu falsafa berwazan fa’lala.
Secara terminologis/ definisi, para ahli mempunyai definisi yang berbeda, menurut Zuhairini Filsafat adalah berfikir mengenai tata tertib (logika) dengan bebas (tidak terikat pada tradisi, dogma serta agama) dan dengan sedalam-dalamnya sehingga sampai ke dasar persoalannya.
Zuhairini juga mengutip pendapat beberapa ahli diantaranya Plato, Aristoteles, Kant, Fichte dan Al-Farabi.
Menurut Plato filsafat adalah Pengetahuan tentang segala yang ada, sedangkan menurut Aristoteles filsafat adalah menyelidiki sebab dan asas segala benda, Kant mendefinisikan filsafat dengan pokok pangkal segala pengetahuan dan pekerjaan. Fichte mendefinisikan filsafat sebagai ilmu-ilmu yang menjadi dasar segala ilmu. Dan terakhir Al-Farabi mendefinisikan bahwa filsafat adalah mengetahui semua yang ujud karena ia ujud, dan membagi filsafat menjadi dua yaitu : filsafat teori dan filsafat praktek.
Sedangkan menurut Endang Saifuddin Anshari mengemukakan bahwa filsafat adalah ‘ilmu istimewa’ yang mencoba masalah-masalah yang tidak dapat dijawab oleh ilmu pengetahuan biasa, karena masalah-masalah termaksud itu di luar atau di atas jangkauan ilm pengetahuan biasa. Filsafat juga diartikan dengan daya upaya manusia dengan akal budinya untuk memahami (mendalami dan menyelami) secara radikal dan integral serta sistemik hakikat sarwa-yang-ada : hakikat-hakikat yang diperdalam tersebut adalah : Hakikat Tuhan, hakikat alam semesta dan hakikat manusia. Sikap termaksud adalah konsekuensi dari pemahamannya.
Sedangkan menurut Ahmad Tafsir , filsafat adalah pengetahuan yang logis dan tidak empiris. Menurut Jujun Suriasumantri karakteristik berfikir filsafat ada tiga yaitu : menyeluruh, mendasar dan spekulatif.
Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa pengertian filsafat adalah berfikir tentang segala sesuatu dengan logis, radikal, menyeluruh, mendasar dan spekulatif.

2. Epistemologi Filsafat
Epistemologi filsafat membicarakan tiga hal yaitu : Objek filsafat, cara memperoleh pengetahuan filsafat dan ukuran kebenaran (pengetahuan filsafat).
a. Objek filsafat
Objek filsafat menurut Ahmad Tafsir sangat luas yaitu masalah-masalah yang ada atau mungkin ada (abstrak-rasional) Jadi objek filafat lebih luas dari objek sain yang hanya meneliti objek yang ada dan empiris.
b. Cara memperoleh pengetahuan filsafat
Pengetahuan filsafat diperoleh dengan cara berfikir secara mendalam tentang sesuatu yang abstrak, atau sesuatu yang konkrit tetapi di bagian belakangnya (behind the some thing-pendapat penulis) jadi abstrak juga. Alhasil cara memperoleh pengetahuan filsafat adalah dengan menggunakan akal.
c. Ukuran kebenaran filsafat
Pengetahuan filsafat adalah pengetahuan yang logis tidak empiris. Ini menunjukan bahwa kebenaran filsafat adalah logis tidaknya pengetahuanitu. Bila logis berarti benar, bila tidak logis berarti salah. Untuk mengukur logis tidaknya dibutuhkan argumen atas satu teori, apabila argumennya logis berarti kebenaran konklusinya terjamin.

3. Aksiologi Filsafat
Berbicara aksiologi filsafat tidak akan terlepas dari dua hal yaitu : kegunaan pengetahuan filsafat dan cara filsafat menyelesaikan masalah
a. Kegunaan filsafat
Untuk mengetahui kegunaan filsafat dapat dilihat dari tiga hal yaitu :
1) Filsafat sebagai teori, maksudnya dengan mengetahui teori-teori filsafat yang ada sekarang, kita dapat menentukan sikap untuk menyukainya atau membencinya. Jangan bilang membenci suatu teori sebelum tahu lebih banyak tentangnya.
2) Filsafat sebagai metode pemecahan masalah, maksudnya adalah filsafat digunakan sebagai suatu cara atau model pemecahan masalah secara mendalam dan universal, filsafat selalu mencari sebab terakhir dari sudut pandang seluas-luasnya.
3) Filsafat sebagai pandangan hidup, maksudnya adalah filsafat mempengaruhi pandangan hidup penganutnya, sama halnya dengan agama karena pada tataran ini keyakinan yang berbicara.
b. Cara filsafat menyelesaikan masalah
Cara filsafat menyelesaikan masalah adalah dengan dua pola mendalam dan universal. Mendalam maksudnya masalah yang dihadapi diteliti dan dipikirkan asal usulnya mengapa masalah tersebut bias timbul. Universal maksudnya masalah yang dihadapi dilihat dalam hubungan seluas-luasnya agar penyelesaian yang diambil bias cepat dan berakibat luas






DAFTAR PUSTAKA

Al-Qur’an dan Terjemahnya
Ahmad Tafsir, Filsafat Ilmu ( Bandung : Remaja Rosda Karya, 2010)
Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam ( Bandung : Remaja Rosda Karya, 1993)
Beni Ahmad Saebani, Filsafat Ilmu ( Bandung : Pustaka Setia, 2009 )
Endang Saifuddin Anshari, Ilmu, Filsafat dan Agama ( Surabaya : Bina Ilmu, 1991 )
Jujun Suriasumantri, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer ( Jakarta : Pustaka Sinar Harapan, 1993 )
PPs UIN SGD Bandung, Pedoman penulisan Tesis dan Disertas ( 2010)
Zuhairini, dkk, Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta : Bumi Aksara bekerjasama dengan Dirjen Bimbaga Islam, 1992 )

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar