Rabu, 19 Januari 2011

Pendidikan Satu Atap SD dan SMP

Pendidikan Satu Atap SD dan SMP Leave a comment

Pendidikan dasar 9 tahun sekarang menjadi pendidikan pokok di Indonesia, itu artinya peserta didik minimal lulus paling rendah lulus SMP, akan tetapi di lapangan masih ditemukan berbagai hal, dimana siswa SD tidak semuanya dapat tertampung di SMP bahkan kuantitas SMP tidak sebanding dengan SD yang ada, taruhlah jika SD di satu kecamatan ada 35 SDN dan MI sebanyak 5, sedangkan SMP negeri dan swasta rata-rata mencapai 10 itu sudah bagus. Padahal rasionya dengan SD dengan SMP 1:8. Apakah mungkin secara kasat mata jumlah SMP tersebut dapat menampung lulusan SD dan MI. Hampir dipastikan tidak semua lulusan SD melanjutkan ke SMP atau MTS.

Inilah akar masalahnya, sampai kapanpun jika sistem pendidikan yang dilakukan selama ini ketika lulus SD melanjutkan ke sekolah berikutnya yang jumlah sekolah relatif tidak seimbang atau belum mendekati jumlah lulusan SD, maka permasalahan peserta didik yang tidak melanjutkan ke SMP tidak akan pernah terselesaikan. Belum lagi jika budaya masuk ke SMP atau pendidikan selanjutnya dengan alasan tertentu sekolah akan mengambil iuran atau sumbangan pendidikan yang menjadi problematika di setiap awal ahun ajaran.

Solusinya adalah sistem pendidikan selama ini harus dirubah dengan cara pendidikan satu atap untuk pendidikan dasar, artinya pendidikan SD dan SMP harus disatukan dalam satu atap pendidikan, sehingga lulusan SD secara otomatis diterima di SMP sehingga angka tidak melanjutkan dapat diminimalisir dan pengeluaran orang tua dalam sumbangan pendidikan dapat dihindari secara sistematis.

Nah bagaimana dengan SDM gurunya yang berkecimpung di sana, selama ini pendidikan SD lebih banyak dikoordinir secara teknis di UPTK pendidiksan, sementara SMP lebioh didominasi pengelolaannya di Tingkat Dinas Pendidikan Kabupaten, maka secara pengelolaan saja sudah beda dab hampir dipastikan secara sistematis pendidikan dasar 9 tahun sampai kapanpun sulit dilakukan secara efektif dan efisiens.

Makalah Sumber Pengetahuan

makalah ilmu Leave a comment

SUMBER PENGETAHUAN

A. Pendahuluan

Manusia merupakan makhluk Allah SWT yang sejak kehadirannya di muka bumi telah diberikan potensi untuk dapat menghadapi kehidupan. Sebagaimana telah diketahui bahwasannya Adam telah diberi pengetahuan tentang segala sesuatu dari ala mini, dimana makhluk Allah SWT yang lain tidak mampu untuk menyebutkan apalagi sampai kepada yang lebih tinggi dari itu ( menganalisis, sintesis, evaluasi dan kreasi) Hal ini terjadi karena Allah SWT menjadikannya Khalifah dan melengkapinya dengan akal pikiran yang dinamis, perangkat kehidupan yaitu pendengaran, pengelihatan dan hati.[1]


Manusia dengan potensi yang dimilikinya mampu mengembangkan pengetahuan dalam rangka mengatasi kebutuhan hidup dan bahkan lebih dari itu manusia mampu mengembangkan kebudayaan, memberi makna pada kehidupan dan dia memiliki tujuan dalam kehidupan.[2] Perkembangan pengetahuan manusia dapat terjadi karena manusia memiliki bahasa yang dapat mengkomunikasikan informasi dan jalan pikiran yang melatarbelakangi informasi tersebut. Selain itu manusia memiliki kemampuan berpikir menurut suatu alur kerangka berpikir tertentu yang disebut penalaran.[3]

Dalam makalah ini akan dibahas berkenaan dengan sumber pengetahuan manusia yaitu rasio, pengalaman, intuisi, dan wahyu.

B. Pembahasan

Sebagaimana telah disebutkan bahwa sumber pengetahuan manusia terdiri dari rasio, pengalaman, intuisi, dan wahyu. Dengan keempat inilah manusia mencari apa yang disebut dengan kebenaran.

1. Rasio

Rasio biasa kita mengenalnya sebagai akal pikiran. Kata akal berasal dari kata Arab, yaitu al-‘aql ( ) yang dalam bentuk kata benda tidak terdapat dalam Al-Qur’an. Al-Qur’an hanya menyebutnya dalam bentuk kata kerja seperti ‘aqaluh, ta’qilun, na’qil, ya’qiluha dan ya’qilun yang mengandung arti faham dan mengerti seperti terdapat pada ayat 46 surat al Hajj:

Artinya: Apakah mereka tidak melakukan perjalanan dipermukaan bumi dan mereka mempunyai qalbu untuk memahami atau telinga untuk mendengar; sesungguhnya bukanlah mata yang buta, tetapi qalbu didalam dadalah yang buta. (QS. 22:46)

Manusia yang menjadikan rasio atau akal sebagai sumber pengetahuan disebut dengan kaum rasionalis yang mengembangkan paham rasionalisme, yaitu paham yang menyatakan bahwa idea tentang kebenaran itu sudah ada dan pikiran manusia dapat mengetahui idea tersebut namun tidak menciptakannya dan tidak juga mempelajarinya lewat pengalaman (paham idealisme),. Dengan perkataan lain, idea tentang kebenaran, yang menjadi dasar pengetahuan, diperoleh lewat berpikir rasional, terlepas dari pengalaman manusia. Sistem pengetahuan dibangun secara koheren di atas landasan-landasan pernyataan yang sudah pasti[4]. Mereka menggunakan metode deduktif dalam menyusun pengetahuannya.

Masalah utama yang timbul dari cara berpikir rasional adalah kriteria untuk mengetahui akan kebenaran dari suatu ide dimana menurut seseorang adalah jelas dan dapat dipercaya namun belum tentu bagi orang lain. Jadi masalah utama yang dihadapi kaum rasionalis adalah evaluasi dari kebenaran premis-premis yang dipakainya dalam penalaran deduktif, Karena premis-premisnya semuanya bersumber pada penalaran rasional yang bersifat abstrak dan terbebas dari pengalaman maka evaluasi semacam ini tak dapat dilakukan. Oleh sebab itu maka lewat penalaran rasional akan didapatkan bermacam-macam pengetahuan mengenai satu obyek tertentu tanpa adanya suatu consensus yang dapat diterima oleh semua pihak. Dalam hal ini maka pemikiran rasional cenderung untuk bersifat solipsistic dan subyektif.[5]

Para tokoh rasionalisme diantaranya adalah Plato dan Rene Descartes. Plato menyatakan bahwa manusia tidak mempelajari apapun; dia hanya “teringat apa yang telah dia ketahui”.Semua prinsip-prinsip dasar dan bersifat umum telah ada dalam pikiran manusia. Pengalaman indera paling banyak hanya dapat merangsang ingatan dan membawa kesadaran terhadap pengetahuan yang selama itu sudah berada dalam pikiran.

2. Pengalaman / empiris

Kebalikan dari kaum rasionalis, maka kaum empiris berpendapat bahwa pengetahuan manusia bersumber pada pengalaman yang kongkret. Gejala-gejala alamiah merupakan sesuatu yang bersifat kongkret dan dapat dinyatakan lewat tangkapan pancaindera manusia. Melalui gejala-gejala atau kejadian-kejadian yang berulang-ulang dan menunjukkan pola yang teratur, memungkinkan manusia untuk melakukan generalisasi. Dengan mempergunakan metode induktif maka dapat disusun pengetahuan yang berlaku secara umum lewat pengamatan terhadap gejala-gejala fisik yang bersifat individual.

Kaum empiris menganggap bahwa dunia fisik adalah nyata karena merupakan gejala yang dapat tertangkap oleh pancaindera, sedangka panca indera manusia sangat terbatas kemampuannya dan terlebih penting lagi bahwa pancaindera manusia bias melakukan kesalahan. Misalnya bagaimana mata kita melihat sebatang pensil yang dimasukkan ke dalam gelas bagian yang terendam air terlihat bengkok.[6]

3. Intuisi

Intuisi merupakan pengetahuan yang didapatkan tanpa melalui proses penalaran tertentu. Seseorang yang sedang terpusat pikirannya pada sesuatu masalah tiba-tiba saja menemukan jawaban atas permasalahan tersebut. Tanpa melalui proses berpikir yang berliku-liku tiba-tiba saja dia sudah sampai situ. Jawaban permasalahan yang sedang dipikirkannya muncul dibenaknya bagaikan kebenaran yang membukakan pintu.[7]

Bagimana hal tersebut dapat terjadi pada diri manusia? Para filosof musli mencoba menjawab pertanyaan tersebut diantaranya Al Kindi (796-873 M), Ibnu miskawaih (941-1030 M), dan Ibnu Sina (980-1037 M)

Menurut Ibnu Sina, dalam kehidupan ini terdapat tiga jiwa, yaitu jiwa tumbuh-tumbuhan, jiwa binatang, dan jiwa manusia. Masing-masing jiwa tersebut memiliki daya-daya. Jiwa tumbuhan memiliki tiga daya, yaitu daya makan, daya tumbuh, dan daya membiak. Sdangkan jiwa binatang memiliki daya penggerak dan daya pencerap. Jiwa manusia hanya memiliki satu daya yaitu akal.

Akal manusia ini terbagi menjadi dua, yaitu

1. Akal Praktis yang menerima arti-arti yang berasal dari materi melalui indera pengingat yang ada pada jiwa binatang.

2. Akal Teoritis yang menangkap arti-arti murni, arti-arti yang tidak ada pada materi seperti Tuhan, roh, dan malaikat.

Akal praktis memusatkan pada alam materi, sedangkan akal teoritis mencurahkan perhatiannya pada dunia immateri dan bersifat metafisis. Akal toeritis ini pun terbagi lagi menjadi empat, yaitu

1. Akal materil

2. Akal bakat

3. Akal aktuil

4. Akal perolehan / akal mustafad

Akal dalam derajat yang terakhir inilah yang merupakan akal tertinggi dan terkuat dayanya yang dimiliki para filosof atau orang-orang tertentu. Akal ini mampu terhubung dan dapat menangkap cahaya yang dipancarkan Tuhan ke alam materi melalui Akal yang sepuluh seperti tersebut dalam falsafat emanasi Al Farabi.[8]

Demikianlalah menurut pendapat para filosof tentang akal mustafad / akal perolehan. Kaum sufi mengenalnya dengan istilah qalb, dzauq. Bergson menyebutnya intuisi dan Kant menyebutnya dengan moral atau akal praktis. Pengetahuan yang demikian menurut Ahmad Tafsir disebut sebagai pengetahuan mistik ( mystical knowledge ) dengan paradigma mistik ( mystical paradigm),yang didapat melalui metode latihan (riyadhah).dan metode yakin ( percaya )[9]

Keingintahuan manusia tentang sesuatu yang berada dibalik materi, tentang siapakah yang berada dibalik keteraturan materi, yang menciptakan hukum-hukumnya bukanlah objek empiris dan bukan pula dapat dijangkau akal rasional dan objek ini dikenal dengan objek abstrak-supra-rasional atau meta—rasional yang dapat dikenali melalui rasa, bukan pancaindera dan atau akal rasional.[10]

4. Wahyu

Wahyu berasal dari kata Arab al-wahy ( ) dan al-wahy adalah kata asli Arab dan bukan kata pinjaman dari bahasa asing. Kata itu berarti suara, api dan kecepatan. Disamping itu ia juga mengandung arti bisikan, isyarat, tulisan dan kitab. Al-Wahy selanjutnya mengandung pengertian pemberitahuan secara tersembunyi dan dengan cepat.

Yang dimaksud dengan wahyu sebagai sumber pengetahuan adalah wahyu yang diturunkan kepada orang pilihan-Nya agar diteruskan kepada umat manusia agar dijadikan pegangan hidup berisi ajaran, petunjuk dan pedoman yang diperlukan bagi umat manusia di dunia dan akhirat. Dalam Islam wahyu yang disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW terkumpul dalam Al-Qur’an.[11]

Seperti tergambar dalam konsep wahyu tersebut di atas, pewahyuan mengandung pengertian adanya komunikasi antara Tuhan yang bersifat immateri dengan manusia yang bersifat materi. Menurut Ibnu Sina manusia yang telah memiliki akal musstafad dapat melakukan hubungan dengan Akal Kesepuluh yang dijelaskannya sebagai Jibril. Filosof memiliki akal perolehan yang lebih rendah dari para nabi sehingga filosof tidak bisa menjadi nabi. Menurut kaum sufi, komunikasi dengan Tuhan dapat dilakukan melalui daya rasa manusia yang berpusat dihati sanubari. Kalau filosof mendapatkan akal perolehan dengan mempertajam daya pikir atau akalnya, sedangkan kaum sufi dengan memusatkan perhatian pada hal-hal yang bersifat murni abstrak, mereka mempertajam daya rasa atau kalbunya dengan menjauhi hidup kematerian dan memusatkan perhatian pada usaha pensucian jiwa.[12]

Dimanakah letak perbedaan antara penerimaan wahyu oleh Nabi Muhammad SAW dengan penerimaan ilham oleh sufi dan filosof. Pada sufi dan filosof terdapat terlebih dahulu dalam diri mereka ide dan barulah kemudian ide itu diungkapkandalam kata-kata. Sebaliknya pada Nabi tidak ada ide sebelumnya. Nabi mendengar suara yang jelas tanpa ad aide yang mendahului ataupun bersamaan datangnya dengan kata yang diucapkan. Kita ketahui bahwasannya Nabi Muhammad SAW sendiri terperanjat pada awalnya ketika menerima atau menangkap kata-kata yang didengarnya dan beliau merasa dirinya dipaksa untuk mengucapkan kata-kata yang diwahyukan itu.

Wahyu yang datang dari Tuhan, Yang Maha Kuasa dan Maha Mengetahui kepada para utusan / nabi, memiliki nilai kebenaran yang absolut. Semua ayat yang terdapat dalam Al Qur’an memang absolut benar dating dari Allah SWT. Yang diistilahkan dengan qath’i al wurud. Namun demikian tidak semua ayat mengandung arti yang jelas (qath’i al dalalah) dan banyak diantaranya mengandung arti tidak jelas (zanniy al dalalah).yang menimbulkan interpretasi berbeda dikalangan umat.

Wahyu dalam hal ini adalah Al Qur’an merupakan sumber pengetahuan bagi manusia, yang memberikan petunjuk tentang sesuatu yang berguna bagi kehidupan manusia.

C. Kesimpulan

Dari pembahasan mengenai sumber pengetahuan manusia, dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut:

1. Manusia dalam memperoleh pengetahuan dalam perkembangannya melalui sumber-sumber pengetahuan, yaitu rasio, pengalaman, intuisi, dan wahyu.

2. Terdapat paham-paham yang berkaitan dengan bagaimana manusia memperoleh pengetahuan atau kebenaran, seperti Rasionalisme, Empirisme dua paham yang saling bertentangan / bertolak belakang. Rasionalisme mengandalkan rasio dalam memperoleh pengetahuan yang benar, sedangkan empirisme menggunakan pengalaman.

3. Dalam perkembangan selanjutnya muncul paham positivisme, yaitu paham yang mengajarkan bahwa kebenaran adalah yang logis, ada bukti empirisnya dan yang terukur. Secara lebih operasional ajaran positivisme tentang yang terukur oleh metode ilmiah dengan langkah logico-hypothetico-verificatif.

4. Intuisi bersifat personal dan tidak bisa diramalkan yang karenanya tidak bisa diandalkan guna dijadikan dasar bagi penyusunan pengetahuan yang teratur. Pengetahuan intuitif dapat dipergunakan sebagai hipotesis bagi analisis selanjutnya dalam menentukan benar tidaknya pernyataan yang dikemukakannya.

5. Wahyu sebagai sumber pengetahuan datang dari Allah SWT. melalui Jibril kepada para utusan / nabi. Kandungan pengetahuan yang terdapat didalamnya bersifat absolute. Wahyu sebagai pengetahuan yang datang bukan saja mengenai hal yang terjangkau pengalaman, namun juga mencakup masalah yang bersifat transcendental.

6. Filosof muslim menjelaskan tentang pewahyuan tersebut dapat terjadi pada diri manusia, seperti yang dijelaskan oleh Ibnu Sina.

7. Islam sebagai agama yang bersumberkan wahyu Allah SWT. yang terangkum dalam Kitab Suci Al-Qur’an memberikan pandangan pentingnya menuntut ilmu yang benar dan memberikan petunjuk dan dorongan untuk memperolehnya dengan mempergunakan potensi dirinya.

DAFTAR PUSTAKA

1. Departemen Agama RI, Al-Quran dan Terjemahannya, Semarang: Toha Putra 1989

2. Ahmad Tafsir, Filsafat Ilmu mengurai Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi Pengetahuan, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2010

3. Harun Nasution, Akal Dan Wahyu Dalam Islam, Jakarta: UI Press 1986

4. Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2009

Jujun S. Suriasumantri, Ilmu Dalam Persfektif, Sebuah Kumpulan Karangan

[1] QS. 22: 46

[2] Jujun. Suriasumantri, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, (Jakarta : Pustaka Sinar Harapan,2009) cet. ke-21, hlm.40

[3] ibid

[4] JuJun S. Suriasumantri, Ilmu Dalam Perspektif sebuah kumpulan karangan tentang hakekat ilmu ( Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1997) cet.ke-13 hlm. 10

[5] Jujun S. Suriasumantri, op.cit hlm.51

[6] Ibid hlm 53

[7] Ibid.

[8] Harun Nasution, op.cit hlm 11

[9] Ahmad Tafsir,Filsafat Ilmu mengurai ontology, Epistemologi dan aksiologi pengetahuan (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2010) cet. ke-15, hlm10

[10] ibid

[11] Harun Nasution

[12] Harun Nasution ibid hlm 18

Rabu, 29 Desember 2010

Euphoria Sepak Bola tanah air

Tanggal 29 Desember 2010 adalah tanggal  yang menentukan bagi Timnas  Indonesia, apakah akan menjadi  pemenang atau hanya menduduki runner up. Laga kedua melawan Tim Malaysia ini memang sangat menentukan, kenapa ? Karena pada leg pertama Timnas kita kalah telak 3-0..
Segala daya, trik dan apapun dikerahkan oleh pelatih dan pemain demi meraih kemenangan, termasuk oleh pemain ke-12 yaitu penonton, demi memberikan dukungan kepada tim kesayangan apapun dilakukan, ngantri tiket masuk, membeli  kaos berlogo garuda sampai mengecat tubuhpun dilakukan sebagai perwujudan rasa sayang dan kerinduan yang mendalam akan kemenangan.
Pertanyaan yang muncul sekarang apakah semua yang dilakukan tersebut wajar ? Apakah tidak terlalu berlebihan sampai harus adu jotos demi mendapatkan sebuah tiket ? Atau apakah tidak terlalu berlebihan kalau harus mengecat tubuh demi memberikan dukungan ?
Sebagai orang yang awam saya berpendapat, rakyat Indonesia sudah sangat merindukan Timnas kita menjadi juara, jadi dukunganpun mengalir luar biasa, namun harus dikritisi jangan terlalu 'over' sehingga melupakan segalanya apalagi melanggar norma dan ajaran agama, dengan mengecat tubuh misalnya kita akan bertanya bagaimana dia melakukan sholat kalau dia seorang muslim ? atau di banyak daerah pertandingan sepak bola menjadi ajang untuk berjudi, dan uang yang dipertaruhkan bukan uang dalam jumlah yang kecil. Seandainya uang itu diberikan untuk mengentaskan kemiskinan akan sangat bermanfaat sekali. 
Sebentar lagi peluit tanda mulainya pertandingan dibunyikan. Jadi, majulah terus Tim Garuda, do'a kami menyertai langkahmu....untuk para suporter jadilah suporter yang  memberikan dukungan dengan segenap jiwa dan raga dengan tidak melupakan kodrat kita sebagai hamba-Nya....
Allohu A'lam....

Rabu, 22 Desember 2010

Berbagi tidak berharap kembali

Berbagi tidak berharap kembali
Berbagi ilmu dan berkarya dalam pendidikan akan jauh bermanfaat dibandingkan dengan banyak bicara tanpa bukti apalagi memperdebatkan sesuatu yang tidak banyak bermanfaat bagi masyarakat.Kita bisa berkaca kepada para ilmuwan muslim bahkan ilmuawan Barat siapapun yang telah berjasa menemukan teori-teori ilmu pengetahuan yang aplikatif dalam bidang ilmu. Seperti Al Gozali, Imam Syafi'i, As- Suyuti, Imam Malik, Ibnu Sina, Thomas Alfa Edison dsb, mereka tidak pernah membayangkan karya-karya mereka akan dibaca 15 abad kemudian dan masih relevan dengan kekinian.
Sebagai seorang guru yang profesional, segala ide-ide yang brilian coba tuliskan dalam karya-karya baik di internet, hardcopy seperti buku, majalah, buletin yang akan banyak dikunjungi orang. Para tokoh pemenang hadiah nobel di  dunia tidak pernah bercita-cita perjuangan dalam bidang perdamaian, kemanusian,pendidikan dengan target mendapat hadiah nobel, tetapi lebih mulia yaitu menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain dan berbagi ilmu kepada orang lain secara universal dan egaliter.
Dunia saat ini selalu kapitalis, dimana segala karya ingin selalu dihargai dalam bentuk uang. Penghargaan dalam bentuk finansial itu merupakan imbas bukan tujuan. Contoh rame-rame pemerintah memberikan bantuan sertifikasi untuk guru harus difahami itu bukan tujuan berkarya dan penghargaan tetapi merupakan sebuah imbas sertifikasi yang dimiliki sebagai tenaga guru yang profesional. Jika itu menjadi tujuan  merupakan penyimpangan ( deviasi) dari sebuah kebijakan pemerintah yang tertuang dalam Undang-Undang Guru dan Dosen.

Rabu, 15 Desember 2010

STRATEGI MEMBANGUN MOTIVASI PESERTA DIDIK DI KELAS

STRATEGI MEMBANGUN MOTIVASI PESERTA DIDIK DI KELAS
Pendidikan pada umumnya di Indonesia masih besifat teacher centris, di mana seorang guru bagaikan seorang narasumber yang serbabisa, hanya sedikit sekali pendidikan yang melibatkan peserta didik secara personal dalam pengembangan kemampuannya. Hal ini dapat terlihat dengan banyaknya materi pelajaran yang harus dikuasi peserta didik dengan mengabaikan menggali motivasi peserta didik dalam proses pembelajaran. Kalaupun ada baru sedikit dan harganya cukup mahal di kalangan kelas menengah  ke atas. Ironis memang, pendidikan kebanyakan di Indonesia berada di sekolah-sekolah negeri yang dikelola pemerintah ataupun sekolah yang berada milik masyarakat rendah masih menggunakan strategi pembelajaran penguasaan materi pelajaran yang cukup menjenuhkan.
Agar pendidikan tidak menjenuhkan baik untuk kalangan peserta didik maupun guru sebagai sumber ilmu, seorang guru harus mampu membangun motivasi peserta didik. Karena dengan motivasi yang tinggi bagi  peserta didik akan membangun berbagai energi untuk belajar dan mempelajari keadaan di sekitarnya. Bukankah salah satu alasan beberapa peserta didik yang hobi melakukan tawuran adalah ketidakjelasan motivasi mereka memahami siapakah dirinya sendiri, yang ada mencari identitas diri dengan cari perhatian dari masyarakat sekitar.
Nah bagaimana membangun motivasi peserta didik ketika  berada di kelas. Beberapa dianatara pengalaman penulis adalah sebelum pengajaran di mulai pada pertemuan pertama, peserta didik diarahkan agar memiliki cita-cita yang baik, bila perlu diceritakan beberapa tokoh dunia yang berhasil dengan keterbatasan keluarganya menjadi tokoh terkenal dunia, seperti Thomas Alfa Edison, Al Gozali, Imam Syafi'i dan sebagainya. Setelah itu mengajak peserta didik untuk membayangkan impian mereka yang sudah dituliskan sebelumnya seperti dalam kehidupan nyata 5-20 tahun kemudian. Bila perlu dirangsang dengan bentuk tulisan yang ditulis peserta didik sesuai hati nurani mereka tanpa harus dibaca terlebih dahulu sebelum bayangan mereka tertulis dalam beberapa lembar kertas. Setelah itu mereka membacakan impian mereka satu persatu atau perwakilannya saja jika keterbatasan waktu jam pelajaran. Dengan mereka membacakan impian dan cita-cita mereka di masa depan maka seorang guru akan tahu cita-cita mereka paling tidak ada yang ingin jadi dokter, polisi, tentara, pengusaha, PNS, guru,politikus dsb. Maka mulailah seorang guru mengenal peserta didik dengan menyebut cita-cita luhur mereka, misalnya ketika pelajaran  berlangsung guru merangsang memberikan pertanyaan dengan mengatakan bagaimana pendapat dokter kita, atau yang berhubungan dengan masalah sosial dengan meminta pendapat calon politikus, calon guru dan calon pengusaha?
Sebutan yang terbangun setiap hari kepada peserta didik akan membangun energi yang sangat luar biasa di pikiran dan otak mereka, mereka semakin yakin dengan cita-citanya dan bagaimana cara mengejar cita-cita tersebut. Dengan mereka sadar bahwa akan menjadi manusia sesuai dengan sebutan tersebut akan terbangun rasa sadar, tanggung jawab dan solideritas terhadap sesama cita-cita. Sebaliknya jangan pernah sekali-kali mengatakan kepada peserta didik yang mengalami kesulitan belajar dengan makian seperi bodoh, pemalas, bandel, anak durhaka dsb. Karena sebutan tersebut itu akan selalu masuk di hati mereka dan merangsang mereka untuk benar-benar menjadi sesuai panggilan tersebut. Sering kali di temukan di kalangan peserta didik yang mengatakan bahwa hasil karya mereka jelek, tidak bagus atau acak-acakan, jangan sekali-kali kita memberikan komentar yang mematikan kemampuan mereka, katakan kepada mereka agar mengiatakan inilah karya terbaik saya. Dengan merangsang mereka untuk mengatakan yang terbaik karyanya mereka akan selalu berusaha menjadi yang terbaik.
Demikianlah sekelumit cara pandang bagaimana strategi pembelajaran kita ubah menjadi  suasana yang menyenangkan peserta didik. Mereka merasa terlibat di dalamnya, merasa memiliki untuk belajar, merasa bertanggung jawab dalam proses pembelajaran.Bagi seorang guru tidak harus lelah menyampaikan materi pelajaran, cukup mengamati, mengarahkan, membangun rasa percaya diri dan memberikan penghargaan sekecil apapun yang mereka kerjakan.
Bravo guru Indonesia, di tangan kitalah pendidikan agar menjadi agen of change di masa depan. Tidak menjadi pembunuh karakter peserta didik, bahkan harus sebaliknya yaitu merangsang motivasi peserta didik membangu karakter dan buaday bangsa ini yang menatap  masa depan yang lebih baik. Bukankah kita diajarkan hari ini harus lebih baik dari hari kemaren, dan hari esok harus lebih baik dari hari ini. Selamat mencoba dan  berbagi pengalaman dalam proses pembelajaran.
Wassalam ila Liqaa, good luck, Allah bless us alwasy every time.
Oleh Ruhyana

Minggu, 12 Desember 2010

ULUMUL QURAN TTG. ILMU MUNASABAH Karya Abdul Mufid

ILMU MUNASABAH AL-QUR’AN





Makalah

Disusun dalam Rangka Memenuhi Tugas Mata Kuliah Ulum al-Qur’an
Program Magister Ilmu Agama Islam Konsentrasi Pendidikan Agama Islam
Tahun Akademik 2010/2011


Dosen : Prof. Dr. H. Nurwadjah Ahmad EQ., M.A.








Disusun oleh:

ABDUL MUFID
NIM. 2.210.9.070








UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG JAWA BARAT

2010 M. /1431 H.
ILMU MUNASABAH

A. PENDAHULUAN
Seorang muslim tidak dapat menghindarkan diri dari keterikatannya dengan Al-Qur’an. Seorang muslim mempelajari Al-Qur’an tidak hanya mencari kebenaran ilmiah, tetapi juga mencari isi dan kandungan Al-Qur’an. Hal ini seiiring dengan definisi Al-Qur’an yakni:

كلام الله على نبيه (محمد صلعم) المعجزبتلاوته المنقول بالتواتر المكتوب فىى المصاحف من أول سورة الفاتحة الى أخر سورة الناس
“(Al-Qur’an adalah kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi-Nya (Muhammad SAW) yang lafazh-lafazhnya mengandung mukjizat, membacanya mempunyai nilai ibadah, yang diturunkan secara mutawatir, dan yang ditulis pada mushaf mulai dari awal surah Al Fatihah sampai akhir surah An-Nas.)”


Al-Qur’an merupakan petunjuk dan mukjizat yang memiliki kesatuan, yakni kesatuan pada sumber, kesatuan poros surah dan kesatuan tema, yang dengan ini mempengaruhi cara pandang dalam memahami Al-Qur’an. Dengan petunjuk-petunjuk tersebut, Al-Qur’an menjadi pedoman hidup untuk keselamatan manusia dari kehidupan dunia sampai kehidupan akhirat.
Berdasarkan kenyataan bahwa naskah al-Qur’an menurut Mushaf Utsmani tidak disusun berdasarkan fakta kronologis turunnya. Hal ini menimbulkan pembahasan tersendiri di dalam ulum al-Qur’an, apakah susunan tersebut berdasarkan petunjuk Nabi SAW (tawqifi) atau hanya hasil kreasi para penulis wahyu dengan ijtihad para sahabat?
Sebagian dari mereka berpendapat bahwa hal itu didasarkan pada petunjuk Nabi SAW (tawqifi). Pendapat ini didukung oleh Al-Qadi Abu Bakr, Abu Bakar Ibn Al-Anbari, Al-Kirmani dan Ibn Al-Hisar. Sebagian yang lain berpendapat bahwa hal itu didasarkan atas ijtihad para sahabat setelah bersepakat dan memastikan bahwa susunan ayat-ayat dalam surah adalah tauqifi. Pendapat ini didukung oleh Malik. Adapula yang sependapat dengan pendapat pertama, bahwa susunan itu tawqifi dari Nabi SAW tetapi surah Al-Anfal dan Bara’ah dipandang bersifat ijtihadi. Pendapat ini dianut oleh Al-Baihaqi.
Berdasarkan perbedaan-perbedaan di atas, maka wajar jika masalah munasabah Al-Qur’an merupakan bagian dari telaah ulum al-Qur’an untuk mengungkap berbagai bentuk hubungan dan kemiripan-kemiripan dalam al-Qur’an. Hal ini semakin membuktikan bahwa al-Qur’an “sebagai sesuatu yang sangat luar biasa.”


B. ILMU MUNASABAH
1. Pengertian Munasabah
Kata “munasabah berasal dari kata - يناسب – مناسبة ناسب yang berarti dekat, serupa, mirip, berhubungan, sesuai. Menurut As-Suyuthi munasabah berarti musyakalah (keserupaan) dan al-muqarabah (kedekatan). Bahkan المناسبة sama artinya dengan (القريب المتصل) yang berarti dekat dan berkaitan.
Menurut Az-Zarkasyi, munasabah bisa berarti suatu pengetahuan yang diperoleh secara ‘aqli dan bukan diperoleh melalui tawqifi. Dengan demikian, akallah yang berusaha mencari dan menemukan hubungan-hubungan, pertalian atau keserupaan sesuatu itu.

Secara terminologi, munasabah dapat didefinisikn sebgai berikut:
a). Munasabah adalah kemiripan-kemiripan yang terdapat pada hal-hal tertentu dalam al-Qur’an baik surah maupun ayat-ayatnya yang menghubungkan uraian satu dengan yang lainnya.
b). Menurut Ibnu al-Arabi dalam Mabahits fi Ulum al-qur’an, Mansyurat al-Hadits karangan Manna al Qaththan mengungkapkan bahwa munasabah adalah :

ارتباط أي القرأن بعضها ببعض حتى تكون كالكلمةالواحدة متسق المعانى منتظمةالمبانى علم عظيم
(Munasabah adalah keterikatan ayat-ayat al-Qur’an sehingga seolah-olah merupakan satu ungkapan yang mempunyai kesatuan makna dan keteraturan redaksi. Munasabah merupakan ilmu yang sangat agung)
c). Menurut Manna’ al-Qaththan yang dimaksud Munasabah al-Qur’an adalah:
وجه الارتباط بين الجملة والجملة فى الايةالواحدة أو بين الاية والاية فى الايةالمتعددة او بين السورة والسورة
Artinya:
Munasabah adalah sisi keterikatan antara beberapa ungkapan di dalam satu ayat, atau antar ayat pada beberapa ayat, atau antar surah (di dalam al-Qur’an).

Dari beberapa difinisi di atas, dapat disimpulkan bahwa ilmu munasabah adalah ilmu yang membahas tentang korelasi makna antar-ayat atau antar-surah baik bersifat umum atau khusus, logis atau imajinatif ataupun berupa hubungan sebab akibat, perbandingan dan perlawanan.
Ilmu munasabah pertama kali diperkenalkan oleh Al-Imam Abu Bakar Abdullah ibn Muhammad Ziyad Al-Naisabury (atau Al-Imam Abu Bakar An-Naisabury).

2. Cara Mengetahui Munasabah
Munasabah bersifat ijtihadi, artinya pengetahuan tentang munasabah ditetapkan berdasarkan ijtihad karena tidak ditemukan riwayat baik dari Nabi SAW maupun para sahabatnya. Sehingga tidak ada keharusan mencari munasabah pada setiap ayat. Alasannya Al-Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur mengikuti berbagai kejadian dan peristiwa yang ada.
Menurut Syekh Izzudin bin Abdus-Salam bahwa seorang mufassir terkadang menemukan keterkaitan suatu ayat dengan yang lainnya, tetapi terkadang tidak. Jika tidak menemukan keterkaitan, mufassir tidak diperkenankan memaksakan diri, karena jika memaksakan berarti mengada-adakan apa yang tidak dikuasainya. Jadi dalam hal ini dibutuhkan ketelitian dan pemikiran yang mendalam.
As-Suyuthi menjelaskan ada beberapa langkah yang diperhatikan untuk meneliti keserasian susunan ayat dan surah dalam Al-Qur’an, yaitu:
a) Memperhatikan tujuan pembahasan suatu surah yang menjadi objek pencarian.
b) Memperhatikan uraian ayat-ayat yang sesuai dengan tujuan yang dibahas dalam surah.
c) Menentukan tingkatan uraian-uraian itu, apakah ada hubungannya atau tidak.
d) Dalam mengambil kesimpulan, harus memperhatikan ungkapan-ungkapan bahasanya dengan benar dan tidak berlebihan.


2. Macam-macam Sifat Munasabah
a. Dzaahirul Irtibath (persesuaian yang nyata)
yaitu yang persambungan atau persesuaian antara bagian yang satu dengan yang lain tampak jelas dan kuat, karena kaitan kalimat yang satu dengan yang lain erat sekali, sehingga yang satu tidak bisa menjadi kalimat yang sempurna, jika dipisahkan dengan kalimat yang lain. Contohnya, seperti persambungan antara ayat 1 surat Al-Isra:
           ....
Artinya: “Maha Suci Allah, yang memperjalankan hambah-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Agsha”.

Ayat tersebut menerangkan isra’ Nabi Muhammad SAW. Selanjutnya, ayat 2 surat Al-Isra tersebut yang berbunyi:
       ......
Artinya: “Dan kami berikan kepada Musa Kitab (Taurat) dan Kami jadikan kitab Taurat itu petunjuk bagi Bani Israel”.
Persesuaian antara kedua ayat tersebut ialah tampak jelas mengenai diutusnya kedua orang Nabi/Rasul tersebut.

b. Khafiyyul Irtibath (Persesuaian yang tidak jelas)
yaitu samarnya persesuaian antara bagian Al-Qur’an dengan yang lain, sehingga tidak tampak adanya pertalian untuk keduanya, bahkan seolah-olah masing-masing ayat atau surat itu berdiri sendiri-sendiri, baik karena ayat yang satu itu diathafkan kepada yang lain, atau karena yang satu bertentangan dengan yang lain . Contohnya, seperti hubungan antara ayat 189 surat Al-Baqarah dengan ayat 190 surah Al-Baqarah tersebut berbunyi:
        ••   .........
Artinya: “Mereka bertanya kepadamu tentang bulan tsabit. Katakanlah, bulan tsabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadah) haji”.

Ayat tersebut menerangkan bulan tsabit/tanggal-tanggal untuk tanda-tanda waktu jadwal ibadah haji. Sedangkan ayat 190 surat Al Bagarah berbunyi:
              
Artinya: “Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kalian, (tetapi) janganlah kalian melampaui batas.

Ayat tersebut menerangkan perintah menyerang kepada orang-orang yang menyerang umat Islam.

3. Macam-macam Munasabah
Pada garis besarnya munasabah itu ada 7 (tujuh) macam, namun bisa dikelompokkan menjadi dua hal yaitu:
a) Munasabah surah dengan surah, meliputi:
1) Munasabah awal surah dengan akhir surah.
2) Munasabah nama surah dengan tujuan turunnya
3) Munasabah surah dengan surah sebelumnya
4) Munasabah penutup surah terdahulu dengan awal surah berikutnya.

b) Munasabah ayat dengan ayat, meliputi:
1) Munasabah kalimat dengan kalimat dalam ayat,
2) Munasabah ayat dengan ayat dalam satu surah,
3) Munasabah penutup ayat dengan kandungan ayatnya.



1) Munasabah Awal Surah dengan Akhir Surah
Munasabah awal surah dengan akhir surah, seperti Surah al-Mukminun yang diawali dengan ayat:
  
Artinya: “Orang-orang Mukmin memperoleh kemenangan.”

Pernyataan awal surah al-Mukminun di atas adalah pernyataan bahwa orang mukmin akan menang, mereka pasti menang. Kemudian di akhir surah terdapat pernyataan:
   
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang kafir itu tidak akan memperoleh kemenangan.”
Pernyataan dalam ayat tersebut adalah bahwa orang kafir tidak akan memperoleh kemenangan. Artinya orang mukminlah yang akan memperoleh kemenangan sebagaimana diungkap di awal surah. Jadi dari contoh ini jelas bahwa awal surah dan akhir surah tersebut mempunyai korelasi.
2) Munasabah Nama Surah dengan Tujuan Turunnya
Nama-nama Surah dalam al-Qur’an biasanya diambil dari suatu masalah pokok di dalam surah. Menurut Shubhi As-Shalih munasabah nama surah dengan tujuan turunnya ini terbagi menjadi dua macam:

(a) Hubungan yang diketahui berdasarkan riwayat.
Contoh hubungan jenis ini seperti Surah Al-Baqarah. Nama Al-Baqarah diambil dari kata “Baqarah” yang terdapat pada ayat 67-71, ayat tersebut memuat kisah Nabi Musa a.s. dengan kaumnya. Menurut riwayat Ibn Abbas pada masa itu ada seseorang yang membunuh kerabatnya soal warisan, kemudian mayatnya digeletakkan di tengah jalan dan Nabi Musa a.s. tidak berhasil menyingkap siapa pembunuhnya. Kaum Nabi Musa a.s. melecehkan dan menyuruh bertanya pada Tuhan. Oleh karena itu Allah berfirman untuk menyembelih sapi sebagai penebus peristiwa itu. Akan tetapi kaum Nabi Musa a.s. terus saja melecehkan dengan bertanya jenis warna dan berbagai hal tentang sapi yang disembelih.
Surat An-Nahl juga mempunyai korelasi antara nama dengan tujuan turunnya berdasarkan riwayat. Menurut riwayat Abu Hurairah bahwa perbuatan orang dzolim itu tidak akan memudharatkan kecuali kepada dirinya sendiri. Lalu Allah menurunkan ayat 67-69 Surah An-Nahl agar menjadi ibarat bagi manusia supaya menjadi makhluk beriman dan berguna seperti lebah.

(b) Hubungan yang diketahui berdasarkan penelaahan pikiran
Surah Al-Kahfi, dinamai demikian karena mengandung kisah “Ashab al-Kahfi.” Kisah ini turun setelah ada pertanyaan kaum musyrikin tentang wahyu yang terlambat turun. Surah ini menjelaskan kepada mereka bahwa kisah Ashab al Kahfi adalah bukti kebesara Allah SWT. Allah tidak memutuskan nikmatNya kepada Nabi Muhammad SAW dan kaum mukminin. Bahkan Allah melengkapi nikmatNya dengan menurunkan Al-Qur’an.

3) Munasabah Surah dengan Surah Sebelumnya
Dalam korelasi ini satu surah berfungsi menjelaskan surah sebelumnya, misalnya di dalam surah Al-Fatihah disebutkan:
  
Artinya: “Tunjukilah kami ke jalan yang lurus!”
Kemudian dijelaskan di dalam Surah Al-Baqarah bahwa jalan yang lurus itu adalah mengikuti petunjuk Al-Qur’an, seperti disebutkan:
        
Artinya: “Kitab (Al-Qur’an) itu tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa.”

Contoh lain, surah Al-Falaq dan An-Nas berkaitan dengan surah Al-Ikhlas. Surah Al-Falaq dan An-Nas diturunkan bersamaan waktunya menurut Al-Baihaqi. Oleh karena itu, dua surah ini disebut “Al-Mu’wwidatain” yaitu yang dimulai dengan ‘audzu’. Mohon perlindungan itu hanya kepada Allah SWT yang puncaknya dalam surah Al-Ikhlas, Allah Maha Esa.
Hubungan surah satu dengan surah sebelumnya dapat dicari melalui empat cara, yaitu:
a) Bi hasb huruf (dilihat melalui huruf). Misalnya surah-surah yang dimulai dengan حم dan الر tersusun berurutan.
b) Karena ada persesuaian antara akhir suatu surah dengan permulaan surah berikutnya. Misalnya akhir surah Al-Fatihah dengan awal surah Al-Baqarah.
c) Dilihat الوزن dalam lafazhnya. Misalnya akhir surah Al-Lahab dengan permulaan surah Al-Ikhlas.
d) Adanya kemiripan dalam bilangan ayat dalam ayat suatu surah dengan surah berikutnya. Misalnya Surah Ad-Duha dengan Surah al-Insyirah.

4) Munasabah Penutup Surah dengan Awal Surah Berikutnya
Contoh munasabah ini antara lain akhir Surah al-Waqia’ah ayat 96:
   
Artinya: “Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Maha Besar!”

Kemudian surah berikutnya yakni surah al-Hadid ayat 1 :
         
Artinya: “Semua yang berada di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah SWT (menyatakan kebesaran Allah). Dan Dialah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Begitu pula halnya hubungan akhir surah Ali Imran dengan permulaan surah An-Nisa. Surah Ali Imran ditutup dengan perintah bersabar dan bertakwa kepada Allah:
      •   
Kemudian di awal surah An-Nisa berisi perintah untuk bertakwa kepada Allah SWT juga. Ayat tersebut adalah:
 ••        ...............
5. Munasabah Kalimat dengan Kalimat dalam Ayat
Munasabah antara ayat dengan ayat terbagi dalam dua macam:
a. Hubungan yang sudah jelas antara kalimat terdahulu dengan kalimat kemudian, atau akhir kalimat dengan awal kalimat berikutnya, atau masalah terdahulu dengan masalah yang dibahas kemudian. Hubungan ini sering berbentuk ‘at-tadhadat’ (perlawanan). Seperti ayat 4 Surah Al-Hadid:
                                       
Artinya:
Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa; kemudian Dia bersemayam di atas Arsy, Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar darinya, dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Hadid: 4)

Antara kata “yaliju” (masuk) dengan kata “yakhruju” (keluar), serta kata “yanzilu” (turun) dengan kata “ya’ruju (naik) terdapat korelasi perlawanan.

b. Hubungan yang belum jelas antara ayat dengan ayat atau kalimat dengan kalimat. Hubungan ini menurut Az-Zarkasyi terdiri atas dua macam:

1) Ma’thufah (معطوفة (
Adanya huruf ‘athaf’ mengisyaratkan adanya hubungan pembicaraan. Namun demikian ayat-ayat yang ‘ma’thuf’ itu dapat diteliti melalui bentuk susunan berikut:
(a) المضادة (perlawanan/bertolak belakang antara suatu kata dengan kata lain)
Misalnya kata الرحمة disebut setelah العذاب ; kata الرغبة sesudah katالرهبة ; menyebut janji dan ancaman sesudah menyebut hukum-hukum. Hubungan seperti ini banyak terdapat dalam surah al-Baqarah, An-Nisa dan Al-Maidah.
(b) الاستطراد (pindah ke kata lain yang ada hubungannya atau penjelasan lebih lanjut)
Misalnya kaitan antara الاهلة dengan memasuki rumah dari belakang dalam ayat 189 surah al-Baqarah. Pada musim haji, kaum Anshor mempunyai kebiasaan tidak memasuki rumah dari depan. Sebelum itu mereka menanyakan الاهلة . Lalu ayat ini menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan البر itu adalah takwa kepada Allah dengan menjalankan apa yang Allah tentukan dalam berhaji. Mereka telah melupakan masalah الاهلة tadi karena beralih ke soal memasuki rumah dari belakang dalam kaitannya dengan ibadah haji.
(c) التخلص (melepaskan kata satu ke kata lain, tetapi masih berkaitan)
Misalnya ayat 35 surah An-Nur yang berbunyi:
                 •           •                      ••      
Dalam ayat di atas terdapat lima Takhallush yaitu:
(1) Menyebut النور dengan perumpamaannya, lalu di-takhallush-kan ke  dengan menyebut sifatnya.
(2) Kemudian menyebut لنورا dan الزيتونة yang meminta bantu darinya, lalu ditakhallush dengan menyebut sifat الشجرة
(3) Dari الشجرة ditakhallush dengan menyebut sifat zaitun.
(4) Lalu ditakhallush dari menyebut sifat الزيتونة ke sifat لنورا
(5) Kemudian dari لنورا ditakhallush ke nikmat Allah berupa hidayah bagi orang yang Allah kehendaki.

(d) Tamtsil dari keadaan.
Misalnya tamtsil yang disodorkan dalam surah al-Isra ayat 1dengan 2 dan 3. Peristiwa Isra Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Palestina sebanding juga dengan Isra Nabi Musa a.s. dari Mesir ke Palestina. Ayat ini dihubungkan dengan ayat 3 yang berisi kisah Nuh; bahwa keturunannya wajib meniru Nuh a.s. sebagai hamba yang bersyukur. Ayat tersebut dihubungkan lagi dengan ayat 8-9 yang menyebutkan barangsiapa berbuat baik atau jahat akan mendapat balasan sesuai janji Allah.

2) Tidak ada Ma’thufah
Ketika tidak ada ma’thufah dapat dicari hubungan ma’nawiyahnya, seperti hubungan sebab akibat. Ada tiga bentuk hubungan yang menandai ayat dengan ayat atau hubungan kalimat dengan kalimat:
(a) التنظير (berhampiran/berserupaan)
Misalnya ayat 4 dan 5 surah al-Anfal :
            
      •     
Huruf al kaf ( ك ) pada ayat 5 berfungsi sebagai pengingat dan sifat bagi fi’il yang bersembunyi. Hubungan itu tampak dari jiwa kalimat itu. Maksud ayat itu, Allah menyuruh untuk mengerjakan urusan harta rampasan, seperti yang telah kalian lakukan ketika perang badar meskipun kaummu membenci cara demikian itu. Allah menurunkan ayat ini agar kaum Nabi Muhammad SAW mengingat nikma yang tela diberika Allah dengan diutusnya rosul dari kalangan mereka (surah al-Baqarah ayat 151)
     ……..
Sebagaimana juga kaummu membencimu (Rosul) ketika engkau mengajak mereka keluar dari rumah mereka untuk berjihad. Hubungan ini terjalin dengan ayat-ayat yang berada jauh sebelumnya; bukan seperti nazhiran yang ma’thufah.


(b) الاستطراد (pindah ke perkataan lain yang erat kaitannya)
Misalnya surah Al-A’raf ayat 26 tentang pakaian takwa lebih baik. Allah menyebutkan pakaian itu untuk mengingatkan manusia bahwa pakaian penutup aurat itu lebih baik. Pakaian berfungsi sebagai alat untuk memperbagus apa yang Allah ciptakan. Pakaian merupakan penutup aurat dan kebejatan karena membuka aurat adalah hal yang jelek dan bejat. Sedangkan menutup aurat adalah pintu takwa.

(c) المضادة (perlawanan)
Misalnya surah al-Baqarah ayat 6 :
•           
Allah tidak akan member petunjuk kepada mereka yang kafir itu. Ayat ini berlawanan dengan ayat-ayat sebelumnya yang menyebutkan tentang kitab, orang mukmin dan petunjuk. Hal ini berkaitan dengan ayat 23 surah Al-Baqarah:
     •   ……
Adapun hikmahnya adalah agar mukmin merindukan dan memantapkan iman berdasarkan petunjuk Allah SWT.

6. Munasabah Ayat dengan Ayat dalam Satu Surah
Munasabah ayat dengan ayat sering terlihat jelas, tetapi sering pula tidak jelas. Munasabah ayat dengan ayat yang terlihat jelas sering menggunakan pola ta’kid (penguat), tafsir (penjelas), i’tiradh (bantahan), dan tasydid (penegasan)
a) Munasabah yang menggunakan pola ta’kid yaitu apabila salah satu ayat atau bagian ayat memperkuat makna ayat atau bagian ayat yang terletak di sampingnya. Contoh Ayat 1 dan 2 pada surah Al-Fatihah:
         
Ungkapan “rabb al-alamin” pada ayat kedua memperkuat kata “al-rahman” dan “al-rahim” pada ayat pertama.
b) Munasabah ayat dengan ayat yang menggunakan pola tafsir, apabila suatu ayat atau bagian ayat tertentu ditafsirkan maknanya oleh ayat atau bagian ayat di sampingnya. Contoh ayat 2 dan 3 pada surah Al-Baqarah:
          (2) 
      (3)
Makna “muttaqin” pada ayat kedua ditafsirkan oleh ayat ketiga. Dengan demikian, orang yang bertakwa adalah orang yang mengimani hal-hal yang ghaib, mengerjakan sholat dan seterusnya.

c) Munasabah ayat dengan ayat yang menggunakan pola i’tiradh apabila terletak satu kalimat atau lebih tidak terlihat ada kedudukannya dalam i’rab (struktur kalimat), baik di pertengahan atau di antara dua kalimat yang berhubungan maknanya. Contoh Surah An-Nahl ayat 57:
      •  
Kata ”subhanahu” pada ayat di atas merupakan bentuk i’tiradh (bantahan) dari dua ayat yang mengantarinya. Kata itu merupakan bantahan bagi klaim orang-orang kafir yang menetapkan anak perempuan bagi Allah.

d) Munasabah ayat dengan ayat menggunakan pola tasydid, apabila satu ayat atau bagian ayat mempertegas arti ayat yang terletak di sampingnya. Contoh Surah Al-Fatihah ayat 6-7:
             
Ungkapan “shiroth al-mustaqim” pada ayat 6 dipertegas oleh ungkapan “shirathalladzina......”. Antara kedua ungkapan yang saling memperkuat itu terkadang ditandai dengan huruf athaf (langsung) dan terkadang pula tidak diperkuat olehnya.
Adapun munasabah ayat dengan ayat dalam satu surah yang tidak jelas, dapat dilihat melalui qara’in ma’nawiyyah (hubungan makna). Hal ini terlihat dalam empat pola munasabah yaitu At-Tanzir (perbandingan), Al-Mudhadat (perlawanan), istithrad (penjelasan lebih lanjut) dan At-Takhallush (perpindahan).

7. Munasabah Penutup Ayat dengan Kandungan Ayatnya
Munasabah Penutup ayat dengan kandungan ayatnya menggunakan empat pola munasabah yaitu: Tamkin (memperkokoh/mempertegas), Tashdir (fashilah sudah dimuat di permulaan, di tengah atau di akhir ayat), tausikh (kandungan ayat sudah tersirat dalam rangkaian kalimat sebelumnya dalam suatu ayat) dan Al-Ighal (tambahan keterangan)
Contoh Surah Al-Hajj ayat 64:
            
Ayat tersebut berakhir dengan    (sifat Allah yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji) ini menegaskan pernyataan sebelumnya
     
bahwa Allah-lah pemilik segala apa yang ada di langit dan di bumi dan Allah tidak membutuhkan.

C. KEGUNAAN MEMPELAJARI MUNASABAH
Ilmu Munasabah sebagaimana Asbab an-Nuzul, sangat berperan dalam memahami Al-Qur’an. Kegunaan Ilmu Munasabah dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Dapat mengembangkan bagian anggapan orang bahwa tema-tema Al-Qur’an kehilangan relevansi antara satu bagian dan bagian lainnya.
2. Mengetahui korelasi antara bagian Al-Qur’an, baik antarkalimat atau antarayat maupun antarsurah, sehingga lebih memperdalam pengetahuan
dan pengenalan terhadap Al-Qur’an dan memperkuat keyakinan terhadap kewahyuan dan kemukjizatannya.
3. Dapat diketahui mutu dan tingkat ke-balaghah-an bahasa Al-Qur’an dan konteks kalimat-kelimatnya yang satu dengan yang lainnya serta persesuaian ayat atau surat yang satu dari yang lain.
4. Dapat membantu dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an setelah diketahui hubungan suatu kalimat atau ayat dengan kalimat atau ayat lain.

D. PENUTUP
Cabang ilmu dari ulumul Qur’an yang khusus membahas persesuaian-persesuaian adalah ilmu munasabah atau ilmu tanaasubil ayati wassuwari. Orang yang pertama kali menulis cabang ilmu ini adalah Imam Abu Bakar an-Naisaburi (324 H). Kemudian disusul oleh Abu Ja’far ibn Zubair yang mengarang kitab “Al-Burhanu fi Munasabati Suwaril Qur’ani” dan diteruskan oleh Burhanuddin al-Buqai yang menulis kitab “Nudzumud Durari fi Tanasubil Aayati Wassuwari” dan as-Suyuthi yang menulis kitab “Asraarut Tanzilli wa Tanaasuqud Durari fi Tanaasubil Aayati Wassuwari” serta M. Shodiq al-Ghimari yang mengarang kitab “Jawahirul Bayani fi Tanasubi Wassuwari Qur’ani”.
Berdasarkan penjelasan di atas, bahwa pengertian munasabah itu tidak hanya sesuai dalam arti yang sejajar dan paralel saja. Melainkan yang kontradiksipun termasuk munasabah, seperti sehabis menerangkan orang mukmin lalu orang kafir dan sebagainya. Sebab ayat-ayat al-Qur’an itu kadang-kadang merupakan takhsish (pengkhususan) dari ayat-ayat yang umum. Dan kadang-kadang sebagai penjelasan yang konkret terhadap hal-hal yang abstrak.
Namun demikian yang perlu diperhatikan adalah bahwa munasabah termasuk kajian yang bersifat ijtihadi. Karena sifatnya ijtihadi, akhirnya muncul dua aliran yang berpendapat bahwa:
1. Semua ayat/surah memiliki hubungan
2. Tidak semua ayat/surah memiliki hubungan.
Terlepas dari kedua pendapat di atas, munasabah merupakan bagian tak terpisahkan dari Ulum al-Qur’an. Apakah adanya munasabah itu ijtihadi atau tawqifi, barangkali akan dapat dijawab ketika memperhatikan telaah tentang kaitan ayat dengan ayat lain atau surah dengan surah.
Pada garis besarnya munasabah itu ada 7 (tujuh) macam, namun bisa dikelompokkan menjadi dua hal yaitu:
a. Munasabah surah dengan surah, meliputi:
1. Munasabah awal surah dengan akhir surah.
2. Munasabah nama surah dengan tujuan turunnya
3. Munasabah surah dengan surah sebelumnya
4. Munasabah penutup surah terdahulu dengan awal surah berikutnya.
b. Munasabah ayat dengan ayat, meliputi:
1. Munasabah kalimat dengan kalimat dalam ayat,
2. Munasabah ayat dengan ayat dalam satu surah,
3. Munasabah penutup ayat dengan kandungan ayatnya.

Di antara manfaat utama mempelajari munasabah adalah:
1. Menghindari kekeliruan dalam menafsirkan Al-Qur’an, sebab munculnya kekeliruan dalam menafsirkan Al-Qur’an adalah karena tidak mengetahu munasabah.
2. Intensifikasi pengertian ayat-ayat Al-Qur’an.

Demikian pembahasan munasabah ini, semoga bisa menambah wawasan keilmuan kita terhadap Al-Quran dan menambah keyakinan kita terhadap kewahyuan dan kemukjizatan Al-Qur’an. Wallahu a’lam bishshowab.
DAFTAR PUSTAKA :
Al-Qur’an dan Terjemahnya. Semarang: CV. Toha Putra. 1989
Al-Maraghy, Musthafa. Tafsir al-Maraghy Juz.30 (Qahirah: Musthofa Al-Bab al-Halaby wa Auladuhu) 1963
Amiruddin, Aam, Tafsir Al-Qur’an Kontemporer. Bandung: Khazanah Intelektual Ctk. VII, 2008
Anwar, Rosihon. Ulum Al-Qur’an. Bandung: Pustaka Setia. 2007
Djalal, Abdul, Ulumul Qur’an, Surabaya: Dunia Ilmu, 2000
Hamzah, Muhammad, et.al, Ulum At-Tafsir. Dirjen Pembinaan Kelembagaan Agama Islam Depag RI E.IV. 1997
Kusnadi dalam Disertasi “Al-Wahdah Al-Qur’aniyyah dalam Tafsir al-Asasi: Studi atas Munasabah al-Qur’an menurut Sa’id Hawwa.UIN Jakarta
Ma’luf, Louis. Al-Munjid fi al-Lughah wa al-A’lam (Beirut: Dar al-Syarqy). 1976
Muhammad bin Muhammad Abu Syahbah, Al-Madkhal li Dirasat Al-Qur’an al-Karim, (Kairo:Maktabah al-Sunnah. 1992)
Nawawi, Rif’at Syauqi dan M. Ali Hasan. Pengantar Ilmu Tafsir, Jakarta: Bulan Bintang. 1985
Shihab, M. Quraish, et. al. Sejarah dan Ulum Al-Qur’an. Jakarta: Pustaka Firdaus. Ctk. VIII. 2008
Syafe’i, H. Rachmat, Pengantar Ilmu Tafsir. Bandung: Pustaka Setia. Ctk. I. 2006
-----------------------------------
ibnu.blogspot.com/2009/11/ilmu-munasabah.html
116.66.206.163/.../1556-munasabah-al-quran-kesatuan-yang-integralistik-holistik-.htmlTembolok . oleh: Lindah
ridwan202.wordpress.com/istilah.../munasabatul-quran/ -